Senin, 01 Oktober 2012

hatiku

Selamat Pagi, Siang, Sore.


Indah Dunia, Indah Hariku. Berharap hari-hari yang ku lalui lebih baik dari kemarin.
Semangat itu harusnya tak pernah luntur. Selalu berharap kebaikan.
Kebaikan-kebaikan akan selalu datang, bukan hanya untuk orang baik-baik loh, orang yang gak baik pun dapat kebaikan itu. Sayangnya, tak mampu melihat kebesaran-Nya.

Hati ini harusnya selalu berprasangka baik. Kenapa ? iya capek dong kalo berprasangka buruk. Hidup gak tenang, mikirinnya yang enggak-enggak, bener gak ?

Hati itu mengendalikan tindakan. Hati itu selalu berusaha mengingatkan bahwa tindakan yang kita lakukan itu beresiko negatif, bahkan destruktif. Hati orang yang masih memiliki sedikit saja kebaikan luhur, pasti akan segera memberi sinyal untuk hal-hal negatif. Pernah gak mau ngelakuin sesuatu ragu-ragu ? Atau, pernah gak saat melakukan sesuatu merasa yakin, mantap dan percaya diri ? Jawabnya, pasti pernah.

Indah Dunia, Indah Hariku. Ya, aku berani berkata seperti itu. Karena, aku selalu berusaha untuk berpikir positif, berharap kebaikan. Aku dan Hatiku, akan menggerakkan ragaku pada jalan kebaikan. Jalan yang di Ridhoi-Nya. Aku dan Hatiku, menggerakkan pikiranku pada hal positif.

Think Positively, then you'll get your own way to the happiness.

Kamis, 20 September 2012

Hadiah untuk Bapak

Malam itu hujan deras sekali. Cemas aku intip dari jendela ruang depan, demi melihat genangan air di depan rumah. "Duh, airnya mulai naik". Aku kembali ke ruang tengah, melanjutkan belajar. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah, suaranya agak pelan. -sepertinya dia sudah menunggu agak lama. Aku segera melangkah ke daung pintu ketika samar-samar ku dengar suaranya.

"Eh, mbak Dian, masuk mbak. Ada apa ya?" Sapaku.
"Ibu ada gak, Dek?" tanya Mbak Dian. "Iyah, bentar" kataku sambil melangkah ke Ruang tengah.

Akhir dari sebuah penantian

Smsmu malam itu, masih teringiang jelas. - meski tidak kau katakan secara langsung. Tapi jelas sekali, seperti kau ucapkan sendiri, dihadapanku. Jelas, teringiang. Seperti memoar yang berulang.

Dan aku jelas sekali terluka. Sakit rasanya. Hanya menunggu waktu untuk menumpahkan air mata. Tapi tidak. Aku yang sekarang, lebih kuat menyimpan perasaan terluka. Buatku, hal ini seperti sudah biasa. Karena aku tahu, kamu berulang melakukannya. 

Sudahlah, penantian ini ku hentikan. Mungkin langit akan berkata lain dikemudian hari. 

my review on goodreads

Pukat (Serial Anak-anak Mamak, Buku 3)Pukat by Tere Liye
My rating: 5 of 5 stars

buku ini membuat saya begitu bergetar. mamak yang galak, tapi penuh cinta dan kasih sayang. bapak yang lembut, namun penuh ketegasan.
mereka adalah contoh orang tua yang baik dalam mendidik anak2nya.

jaman sekarang, masih nemu gak ya orangtua yang kaya mereka ? atau, anak-anak macam pukat ?

View all my reviews